Anak-anak Generasi Alpha atau Gen Alpha di Amerika Serikat mulai menggunakan kembali telepon rumah sebagai alat komunikasi dengan teman dan keluarga. Perangkat bergaya jadul tersebut menjadi pilihan sejumlah orang tua yang ingin membatasi penggunaan smartphone dan media sosial pada anak.

Salah satu produk yang sedang diminati adalah Tin Can, telepon rumah berbasis Wi-Fi yang memungkinkan anak melakukan panggilan tanpa menggunakan layar. Sejak diluncurkan pada April 2025, perangkat tersebut diklaim telah terjual ratusan ribu unit di Amerika Serikat dan Kanada.

Tingginya permintaan membuat Tin Can dilaporkan kehabisan stok sebanyak tujuh kali, meskipun perusahaan terus meningkatkan jumlah perangkat yang tersedia. Tren ini muncul ketika sejumlah keluarga mencari cara agar anak tetap bisa berkomunikasi tanpa harus memiliki smartphone sendiri.

Melansir laporan Yahoo Tech, telepon rumah kini kembali digunakan dalam sejumlah kelompok pertemanan anak-anak di Amerika Serikat. Mereka memanfaatkan perangkat tersebut untuk menghubungi teman, berbincang dengan keluarga, hingga merencanakan kegiatan bermain bersama.

Popularitas telepon rumah di kalangan Gen Alpha terlihat dari pengalaman sejumlah keluarga yang mulai menggunakan perangkat Tin Can dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah Gigi, anak perempuan berusia 11 tahun yang mendapatkan telepon tersebut pada April 2026.

Pengalaman pertama Gigi menggunakan telepon rumah tidak langsung berjalan lancar karena dirinya lebih terbiasa dengan panggilan video melalui FaceTime. Ketika menerima panggilan, ia sempat memegang gagang telepon di depan wajah seperti sedang berbicara melalui layar smartphone.

Ibunya kemudian mengajarkan cara menggunakan gagang telepon, membuka percakapan dengan salam, dan menutup panggilan sebelum mengembalikan perangkat ke tempatnya. Gigi juga belajar bahwa komunikasi melalui telepon membutuhkan respons dua arah agar percakapan dapat berlangsung.

Setelah beberapa bulan menggunakan Tin Can, Gigi mulai terbiasa menghubungi sepupunya yang berusia tujuh tahun untuk menanyakan kegiatan sehari-hari. Ia juga mampu melanjutkan percakapan dengan mengajukan pertanyaan ketika lawan bicaranya terdiam.

Kebiasaan serupa ditemukan pada kelompok pertemanan anak berusia tujuh tahun yang dilaporkan telah memiliki sekitar 15 perangkat Tin Can. Anak-anak tersebut menggunakan telepon rumah untuk saling menghubungi tanpa harus meminjam smartphone milik orang tua.

Penggunaan perangkat tersebut memberi kesempatan kepada anak untuk mengatur komunikasi dengan teman secara lebih mandiri, tetapi tetap berada dalam pengawasan keluarga. Orang tua dapat membatasi nomor yang boleh dihubungi sehingga anak tidak memiliki akses bebas seperti pada smartphone.

Pendiri sekaligus CEO Tin Can, Chet Kittleson, mengatakan perusahaan mengalami peningkatan permintaan sejak produk tersebut diluncurkan pada April 2025. Dalam kurun waktu sekitar satu setengah tahun, Tin Can diklaim telah terjual ratusan ribu unit di seluruh Amerika Serikat dan Kanada.

Kittleson menyebut stok perangkat telah habis sebanyak tujuh kali meskipun perusahaan menambah jumlah produksi setiap kali membuka penjualan. Perusahaan kini juga menerima pemesanan awal dari konsumen di Australia, Inggris, dan Selandia Baru.

Tin Can dijual sekitar 100 dolar AS dan menggunakan koneksi Wi-Fi untuk menjalankan fungsi panggilan suara tanpa sambungan telepon rumah konvensional. Bentuknya menyerupai telepon lama dengan gagang dan kabel spiral, tetapi tidak dilengkapi aplikasi media sosial maupun gim.

Perangkat tersebut mempunyai aplikasi pendamping yang memungkinkan orang tua menyetujui nomor kontak serta menentukan waktu anak boleh melakukan panggilan. Dengan fitur ini, anak dapat menghubungi orang yang dikenal tanpa memperoleh akses komunikasi secara bebas kepada nomor yang tidak disetujui.

Panggilan antarpengguna Tin Can dan akses layanan darurat 911 tersedia dalam layanan dasar, sedangkan panggilan menuju nomor telepon biasa membutuhkan paket berlangganan. Perusahaan menetapkan biaya tambahan sebesar 9,99 dolar AS per bulan untuk layanan tersebut.

Tin Can juga menawarkan potongan harga bagi sekolah, komunitas, dan kelompok olahraga yang ingin melakukan pembelian perangkat secara bersama. Strategi tersebut memungkinkan sejumlah anak dalam satu lingkungan pertemanan menggunakan layanan yang sama untuk berkomunikasi.

Selain Tin Can, perusahaan teknologi Ooma dan Pinwheel turut menawarkan perangkat telepon rumah berbasis Wi-Fi yang dirancang untuk anak-anak. Kehadiran produk serupa menunjukkan adanya persaingan dalam pasar perangkat komunikasi sederhana yang ditujukan kepada keluarga.

Meski demikian, angka penjualan ratusan ribu unit merupakan data yang disampaikan perusahaan dan belum diverifikasi melalui laporan penjualan independen. Popularitas tersebut juga belum membuktikan bahwa penggunaan telepon rumah telah menjadi kebiasaan mayoritas anak Gen Alpha.

Salah satu alasan orang tua memilih telepon rumah adalah keinginan menunda pemberian smartphone kepada anak tanpa menghilangkan kesempatan mereka berkomunikasi. Sebagian keluarga juga ingin mengurangi waktu menatap layar yang biasanya bertambah ketika anak menggunakan perangkat digital.

Pasangan pembawa acara Home Town di HGTV, Erin dan Ben Napier, termasuk keluarga yang menyediakan telepon rumah untuk kedua putri mereka. Keduanya bahkan menambah jumlah perangkat dari satu menjadi dua agar anak-anak dapat lebih mudah menghubungi teman dan kerabat.

Putri mereka, Helen, yang berusia delapan tahun, dilaporkan menggunakan telepon rumah hampir setiap hari untuk menghubungi teman, sepupu, dan kakek-neneknya. Sementara itu, adiknya, Mae, yang berusia lima tahun, masih belajar mengenali penelepon dan membuka percakapan.

Pasangan Napier juga ikut mendirikan Osprey, sebuah inisiatif yang mendorong orang tua bekerja sama membesarkan anak tanpa ketergantungan pada media sosial. Mereka menilai komunikasi melalui telepon suara dapat membantu anak membangun hubungan sosial secara lebih mandiri.

“Sangat baik memberikan anak-anak kemandirian dengan cara seperti ini,” kata Erin dan Ben Napier dalam wawancara dengan Yahoo.

Selain menghubungi teman sebaya, telepon rumah digunakan anak-anak untuk mempertahankan komunikasi dengan anggota keluarga yang tinggal terpisah. Dalam keluarga Gigi, neneknya menjadi salah satu orang yang paling sering melakukan panggilan melalui perangkat tersebut.

Meski penggunaan telepon rumah memberi alternatif, perangkat ini tidak dirancang untuk sepenuhnya menggantikan seluruh fungsi smartphone dalam kehidupan keluarga. Tin Can terutama menyediakan komunikasi suara, sedangkan penggunaan internet dan aplikasi tetap bergantung pada kebijakan masing-masing orang tua.

Koeun Choi, profesor madya bidang perkembangan manusia dan ilmu keluarga di Virginia Tech, menjelaskan bahwa percakapan tanpa gambar dapat mendorong anak berbicara lebih jelas. Anak tidak dapat mengandalkan ekspresi wajah atau gerakan sehingga perlu menyampaikan maksud melalui kata-kata.

“Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak cenderung berkomunikasi lebih jelas ketika petunjuk visual tidak tersedia,” ujar Choi kepada Yahoo Tech.

Menurut Choi, orang tua dapat membantu anak menentukan topik pembicaraan sebelum menelepon, tetapi sebaiknya memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengelola percakapan. Cara tersebut memungkinkan anak belajar merespons pertanyaan, mendengarkan, dan mempertahankan komunikasi tanpa terus mendapat bantuan.

Choi menambahkan bahwa jeda atau keheningan selama percakapan bukan sesuatu yang harus selalu dihindari karena dapat menjadi bagian dari pembelajaran. Anak justru memperoleh kesempatan memikirkan respons dan menentukan cara melanjutkan pembicaraan dengan orang lain.

Kittleson mengakui anak-anak membutuhkan waktu untuk membiasakan diri menggunakan telepon, termasuk ketika hendak mengatur pertemuan dengan teman. Putranya yang berusia enam tahun pernah mengakhiri panggilan tanpa menanyakan waktu kegiatan bermain yang telah dibicarakan.

Walaupun demikian, perusahaan menyebut banyak anak tetap memakai perangkat tersebut selama setahun atau lebih setelah pembelian. Tin Can belum memberikan angka retensi pengguna secara terperinci sehingga tingkat penggunaan jangka panjang belum dapat diketahui secara pasti.

Melihat meningkatnya permintaan, Tin Can memperkenalkan sejumlah produk baru pada 15 Oktober 2026 untuk memperluas pilihan perangkat komunikasi anak. Salah satunya adalah Technicaller Clear, telepon transparan edisi terbatas yang dapat menyala ketika menerima panggilan masuk.

Desain tersebut terinspirasi dari perangkat elektronik transparan yang populer pada 1990-an, tetapi tetap menggunakan teknologi panggilan berbasis Wi-Fi. Perusahaan mempertahankan konsep telepon tanpa layar sambil menawarkan tampilan berbeda kepada konsumen yang menginginkan pilihan desain baru.

Tin Can juga memperkenalkan Contact Keeper, tempat penyimpanan nomor telepon berbentuk kartu yang memungkinkan anak mencatat dan bertukar informasi kontak. Produk bergaya Rolodex tersebut dijual sekitar 40 dolar AS dan dikembangkan setelah perusahaan melihat kebiasaan anak menyimpan nomor di kertas.

Perusahaan turut meluncurkan Twirly Cord Charms, aksesori penghias kabel telepon yang dapat digunakan untuk mempercantik perangkat atau dipasang pada tas. Aksesori tersebut ditawarkan dalam paket berisi lima buah dengan harga sekitar 20 dolar AS.

Menurut laporan Fast Company, pengembangan produk itu muncul setelah Tin Can mengamati bagaimana anak-anak menggunakan dan menghias telepon mereka. Perusahaan kemudian mencoba menghadirkan aksesori tambahan yang sesuai dengan kebiasaan pengguna muda.

Meski permintaan terus meningkat, Choi menilai masih terlalu dini untuk memastikan apakah perangkat telepon rumah akan menjadi kebutuhan tetap keluarga. Namun, ketertarikan orang tua terhadap cara menjaga hubungan sosial anak tanpa penggunaan layar berlebihan dinilai berpotensi terus berlanjut.

Untuk saat ini, telepon rumah berbasis Wi-Fi menjadi salah satu alternatif komunikasi bagi keluarga yang belum ingin memberikan smartphone kepada anak. Popularitas Tin Can menunjukkan bahwa perangkat dengan fungsi sederhana masih memiliki pasar di tengah perkembangan teknologi komunikasi yang semakin kompleks.

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch